Beli Barang atau Beli Merek?



Pernah nyesal gak waktu memutuskan untuk beli sebuah barang?

Semua orang, bahkan saya sekalipun pernah mengalami hal tersebut!

Lantas, apakah kita pernah berfikir kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Saya rasa jawabannya sih cuma satu. Merek!

Saya pernah 'mantengin' pembuktian ini dalam suatu video percobaan di brain games, dimana sekumpulan strangers dilibatkan dalam suatu eksperimen sosial. Eksperimennya cukup simpel dan sederhana, dimana mereka dikumpulkan di suatu tempat wisata. There is no something weird at the first time, just like usual. Tapi gak lama kemudian eksperimen pun dimulai.

Manajer tempat tersebut mendatangi subjek eksperimen dan menawari mereka untuk nyobain kue yang dijajakan pada dua stan disana. Sekilas, kedua tempat tersebut menawarkan kue dengan bentuk dan warna yang sama. Tapi, stan pertama menawarkan kue dengan harga sangat murah. Disisi lain, stan kedua menawarkan kue dengan harga selangit. Sampai disini, mungkin kamu bisa nebak stan siapa yang kuenya bakal laris manis.

Jika kamu menebak stan pertama bakal banjir pengunjung, kamu salah!

Ya, ternyata stan kedua yang paling laku keras! Jawaban yang diberikanpun demikian beragam. Ada yang mengatakan bahwa krimnya lebih lembut, ada yang mengatakan bahannya adalah bahan-bahan impor dan first class. Ketika dikatakan bahwa kedua kue tersebut sebenarnya terbuat dari bahan yang sama, mereka hanya tertawa bersama, menikmati tipuan dan trik dari tim sore itu.

Lantas mengapa stan kedua lebih diminati?
Jawaban dari pertanyaan diatas hanya satu, yaitu merek! Dalam studi kasus diatas, 'mahal' adalah merek yang ditawarkan. Dengan mengatakan harga kue pada stan kedua lebih mahal, orang-orang akan berfikir bahwa mereka mendapatkan sesuatu yang lebih 'bernilai' untuk mereka makan. Ketika sugesti ini berhasil masuk kedalam pikiran kita, maka berbagai sensasi menyenangkan akan muncul dalam otak. Inilah mengapa mereka yang memilih kue pada stand dua merasa bahwa krim kue tersebut lebih lembut, bahan-bahannya first class dan berbagai alasan lainnya. Kuncinya hanya satu, merek!

Serupa dengan studi kasus diatas, ketika kamu 'kepincut' itu merek, otomatis otak bakalan ngerespon hal-hal yang menyenangkan. Misalnya nih, ketika kamu pake baju kemeja kotak-kotak biru hasil nawar di tanah abang, dan di lain hari kamu pake baju kemeja bermerek yang kurang cerah warnanya tapi kamu beli di department store. Sekalipun baju pertama tadi lebih bagus, tapi karena mereknya ga terkenal, kamu bakal merasa lebih pede kalau keluar pakai baju kedua. Begitulah cara para produsen merek terkenal bekerja, sehingga akhirnya, kamu bakal beli barang yang kamu inginkan, bukan yang kamu butuhkan.

Dengan memasukkan asumsi bahwa arloji branded membuat kamu lebih gaya dibandingkan pake arloji standar di emperan toko, kamu bakal ngumpulin uang sebanyak-banyaknya untuk beli arloji tersebut. Padahal kalau dipikirin lagi, semua arloji masih 24 jam kan?

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Rico's Daily Notes | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com