Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah, bahkan sering mendengar kata-kata 'pasaran' "Positive Thinking". Salah satu kata motivasi yang umum diucapkan, namun implementasinya dalam kehidupan sangat kurang, bahkan tidak ada sama sekali. Contoh mudah yang dapat disaksikan oleh kedua bola mata pemberian tuhan ini adalah anak-anak muda yang ngeles soal gaya hidup mereka.
Bukanlah hal yang sulit menemukan fenomena life style negatif yang ditutup-tutupi dengan kata positive thinking. Sebuah contoh sederhana saya ambil dari media sosial, yang umumnya dilakukan oleh kaum hawa. Dengan mudahnya mereka memasang foto mengumbar aurat yang membangkitkan syahwat, namun memasang caption pamungkas "Positive Thinking Aja". Di beberapa profil lainnya, ada yang membuat caption lebih konyol dari contoh pertama "Comment negatif block!".
Dari dua contoh fenomena diatas, muncul pertanyaan besar dalam benak saya
Analogi tersebut bisa kita masukkan kedalam konsep mind set tadi. Manusia akan mengkonstruksi pikirannya berdasarkan apa yang ia serap. Suatu pola pikir akan terbentuk sesuai dengan lingkungan seorang individu. Komunitas yang bekembang di lingkungan ini perlahan akan membentuk sebuah 'trend' yang akhirnya dianut menjadi life style. Hal yang bisa ditarik dari sini adalah korelasi bagaimana lingkungan membentuk suatu life style, terlepas dari baik buruknya hal tersebut. Persoalan sekarang adalah ketika life style yang terbentuk justru buruk bahkan menjurus ke tragedi sosial. Life style buruk yang sedang marak serta rentan diakses sekarang adalah bahaya pornografi dunia maya. Hal paling miris dari hal ini adalah tindakan seperti itu justru dilakukan oleh para kartini-kartini muda bangsa yang seharusnya beradat malu ala ketimuran. Namun seperti luka disiram cuka, hal ini justru dijadikan life style bagi sebagian kalangan kaula muda. Konyolnya, hal negatif semacam ini menjadi sesuatu yang dipandang biasa oleh mereka sehingga berubah makna menjadi positif. Nilai-nilai ketimuran warisan nenek moyang dianggap kolot dan membatasi kebebasan, digantikan oleh nilai positif mereka yang mengumbar syahwat yang berujung pada pelampiasan terlarang. Makna positive thinking yang baik pun ternodai dengan perilaku tidak senonoh berbalut caption kosong "Positive Thinking".
Menilik ke pertanyaan tadi, maka saya berasumsi bahwa segelintir kaula muda tersebut memiliki keinginan agar masyarakat menganggap apapun yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang 'positif'. Keinginan ini akhirnya bermuara pada caption tadi, dimana makna positive thinking berubah menjadi sekedar 'tuntutan' berpikir yang ditujukan ke orang lain tanpa adanya perbuatan positif dari mereka sendiri. Hal semacam ini jelas omong kosong dan sudah pasti menjadi cibiran di mata masyarakat luas. Cibiran yang datang pun tidak hanya sekedar nasihat ataupun teguran keras, ada juga ungkapan pelecehan serta yang paling memalukan dilekatkannya cap 'murahan'. Lantas, masih ingin membalut kelakuan negatif dengan positive thinking?
Bukanlah hal yang sulit menemukan fenomena life style negatif yang ditutup-tutupi dengan kata positive thinking. Sebuah contoh sederhana saya ambil dari media sosial, yang umumnya dilakukan oleh kaum hawa. Dengan mudahnya mereka memasang foto mengumbar aurat yang membangkitkan syahwat, namun memasang caption pamungkas "Positive Thinking Aja". Di beberapa profil lainnya, ada yang membuat caption lebih konyol dari contoh pertama "Comment negatif block!".
Dari dua contoh fenomena diatas, muncul pertanyaan besar dalam benak saya
"Apa arti positive thinking bagi kalangan-kalangan diatas?"
Menanggapi pertanyaan besar tersebut, mari kita kembali ke definisi dari kata positive thinking ini sendiri. Positive thinking sebenarnya merupakan motivasi bagi diri sendiri, untuk senantiasa berfikir hal-hal baik untuk diri sendiri dan atas segala sesuatu disekitar kita. Konstruksi pikiran (mind set) seperti ini tentunya tidak mungkin hadir dari kelakuan yang tidak baik. Manusia pada hakikatnya akan menyerap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Analogi sederhana bisa kita ambil dari penjabaran tersebut. Masyarakat belahan barat Indonesia mengonsumsi padi sebagai makanan pokok, sedangkan masyarakat belahan timur mayoritas mengonsumsi sagu. Perbedaan ini dikarenakan habitat padi yang senantiasa membutuhkan air, sehingga tidak tumbuh di daratan timur. Tidak tumbuhnya padi kemudian menjadikan masyarakat timur 'menyerap' sumber makanan pokok lain yaitu sagu. Sederhana bukan?Analogi tersebut bisa kita masukkan kedalam konsep mind set tadi. Manusia akan mengkonstruksi pikirannya berdasarkan apa yang ia serap. Suatu pola pikir akan terbentuk sesuai dengan lingkungan seorang individu. Komunitas yang bekembang di lingkungan ini perlahan akan membentuk sebuah 'trend' yang akhirnya dianut menjadi life style. Hal yang bisa ditarik dari sini adalah korelasi bagaimana lingkungan membentuk suatu life style, terlepas dari baik buruknya hal tersebut. Persoalan sekarang adalah ketika life style yang terbentuk justru buruk bahkan menjurus ke tragedi sosial. Life style buruk yang sedang marak serta rentan diakses sekarang adalah bahaya pornografi dunia maya. Hal paling miris dari hal ini adalah tindakan seperti itu justru dilakukan oleh para kartini-kartini muda bangsa yang seharusnya beradat malu ala ketimuran. Namun seperti luka disiram cuka, hal ini justru dijadikan life style bagi sebagian kalangan kaula muda. Konyolnya, hal negatif semacam ini menjadi sesuatu yang dipandang biasa oleh mereka sehingga berubah makna menjadi positif. Nilai-nilai ketimuran warisan nenek moyang dianggap kolot dan membatasi kebebasan, digantikan oleh nilai positif mereka yang mengumbar syahwat yang berujung pada pelampiasan terlarang. Makna positive thinking yang baik pun ternodai dengan perilaku tidak senonoh berbalut caption kosong "Positive Thinking".
Menilik ke pertanyaan tadi, maka saya berasumsi bahwa segelintir kaula muda tersebut memiliki keinginan agar masyarakat menganggap apapun yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang 'positif'. Keinginan ini akhirnya bermuara pada caption tadi, dimana makna positive thinking berubah menjadi sekedar 'tuntutan' berpikir yang ditujukan ke orang lain tanpa adanya perbuatan positif dari mereka sendiri. Hal semacam ini jelas omong kosong dan sudah pasti menjadi cibiran di mata masyarakat luas. Cibiran yang datang pun tidak hanya sekedar nasihat ataupun teguran keras, ada juga ungkapan pelecehan serta yang paling memalukan dilekatkannya cap 'murahan'. Lantas, masih ingin membalut kelakuan negatif dengan positive thinking?

0 komentar:
Posting Komentar